Kamu puasa hari apa?

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah tulisan dari internet yang ditempel di sebuah masjid. Ringkasan isinya kurang lebih: Tadi malam adalah bulan purnama, jadi yang benar adalah yang menjalankan puasa ramadhan lebih awal, yang benar adalah yang menggunakan hisab, dan segala argumennya.

Pada kesempatan lainnya, teman saya  berkata, kurang lebih: Manusia diberi akal dan pikiran, jadi untuk apa kalau tidak dimanfaatkan …. dan seterusnya.

Ada lagi yang berkata: Teknologi sudah maju, zaman sudah canggih, kapan ramadhan kapan hari raya dapat ditentukan jauh-jauh hari, bahkan 10 tahun yang akan datang pun bisa, kenapa harus melihat (pakai cara konvensional)… La jadwal sholat itu gimana? Toh juga pakai hisab. Atau kalimat yang senada.

Maka jawaban singkatnya adalah:

Dalam masalah kapan berpuasa dan kapan hari raya, Nabi telah memberikan petunjuknya secara khusus dengan haditsnya, jika melihat hilal berpuasalah dan jika melihatnya berbukalah (berhari rayalah). Kalau tertutup (mendung) maka bulan sya’ban digenapkan 30. Dengan melihat, diperoleh kepastian masuk ramadhan atau belum, bukan berdasar perkiraan dan ramalan. Mungkin ada yang tahu hadits: Jika tanggal 1 ramadhan perpuasalah, jika tanggal 1 syawal berhari rayalah, dst? Bahkan pernah Nabi dan sahabat suatu ketika masih berpuasa, pada siang harinya ada seseorang yang datang dari perjalanan mengabarkan bahwa ia semalam telah melihat hilal, maka  Nabi dan sahabat berbuka dan sholat ied keesokan harinya.. Lalu siapa yang kita jadikan panutan, Nabi ataukah pimpinan organisasi?

Jika bicara masalah kecanggihan, maka pada jaman Nabi juga tak kalah canggih. Beliau bisa saja bertanya kepada Malaikat jibril dan menunggu wahyu, kemudian bersabda: “Sesungguhnya tadi malam malaikat jibril menyampaikan kepadaku bahwasannya besuk adalah tanggal 1 ramadhan, maka berpuasalah kalian”. Berita yang pasti valid dan tidak akan pernah meleset, karena datang dari zat yang menguasai bumi, langit dan seisinya. Canggih mana?

Kenapa selama ini kita bingung dan sering udur-uduran? Karena pegangan kita adalah Orang sepuh, Pimpinan, Kyai, Ustadz, Organisasi, dan yang semisal dengan menomorduakan Alloh dan RosulNya dan fanatik buta. Jika Alloh dan RosulNya di atas semuanya/segalanya, maka InsyAlloh ndak ada ceritanya bingung… Berani coba?

wallohu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: