Baik kok Sesat?

Telah bercerita tetangga saya, bahwasannya ia pernah mendengarkan sebuah “pengajian” di radio (anehnya, sehari-hari “pengajian”nya banyak memaki dan mengumpat, bukan kok berdzikir memuji Alloh, tidak mencerminkan kalau pematerinya adalah orang alim) yang inti nya pemateri sangat berat hati menerima (kalau bukan menolak) hadits Nabi yang menyatakan bahwa “SETIAP BID’AH ITU SESAT (Kullu Bid’atin Dholalah)”. Karena sudah tertanam dalam benak kita tentang adanya Bid’ah Hasanah. Pemateri juga menghibur diri dengan berkata: “Islam itu tidak hanya di Arab”. Sampai-sampai tetangga saya tersebut sulit tidur, memikirkan perkataan pemateri yang aneh itu… Kok sampai segitunya…

Padahal kita ketahui:

  1. Ucapan/kalimat “SETIAP BID’AH ITU SESAT (Kullu Bid’atin Dholalah)” adalah sabda Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasalaam, dimana orang yang membantahnya beresiko mendapatkan dosa yang sungguh-sungguh sangat besar dan bisa memutus tali keislaman. Adapun tentang hadits yang dimaksud beserta penjelasannya silakan DOWNLOAD : Mengapa Anda Menolak Bid’ah Hasanah?.
  2. Imam 4 madzhab senantiasa berpesan agar berpegang kepada Al Quran dan Sunnah, melarang menolak hadits shahih dan mengambil setiap hadits shahih sebagai madzhabnya. Seperti perkataan Imam Syafi’i: “Apabila Hadits itu Shahih maka ia adalah Madzhabku” (An Nawawi dalam kitab Al Majmu’, Asy-Sya’rani (1/57) dan beliau sandarkan kepada Hakim, Baihaqi, dan Al Fullani (hal 107)), dan Imam Syafi’i berkata: “Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalaam, maka jadikanlah Sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalaam sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkan apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di kitab Dzammu Al Kalam (3/47/1), Al Khatib di kitab Al Ihtijaj bi Asy Syafi’i (8/2), Ibnu Asakir (15/9/1), An Nawawi di kitab Al Majmu’ (1/63), Ibnu Al Qayyim (2/361) dan Al Fullani (hal 100)). Imam Syafi’i juga berkata: “Setiap hadits dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wasalaam adalah perkataanku, sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.” (Siyaru A’laamin Nubalaa’). Artinya Imam Syafi’i juga berpendapat kullu bid’atin dholalah.
  3. KH. Hasyim Asy’ari juga meyebutkan sabda Nabi tersebut, seperti dalam kitab “Arba’ina Haditsan fi Mabadi’i Nahdhatuil Ulama’ hadits ke 40 (Hadits terakhir)” , kitab “An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin”, dan dalam kitab “Risalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah”. Bahkan dalam kitab “At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Maulid Bil Munkaroti” Beliau menulis judul dengan huruf yang cukup besar “Kullu Bid’atin Dhalalah”. Terkumpul dalam kitab Irsyadu Sary, terbitan Tebu Ireng, Jombang. (ada yang tahu kitab-2nya KH. Ahmad Dahlan? Pinjem…)
  4. Kalau kalimat “Islam itu tidak hanya di Arab” diamini, maka udah tentu terjemahan bebasnya adalah ada islam Arab, ada islam Afrika, ada islam Amerika, ada islam Rusia, ada islam China, ada islam Indonesia, ada islam pulau Bali, ada islam Papua, dll. Mungkin di Bali pakai bikini menjadi sunnah, di Papua pake koteka jadi wajib, karena adat dan iklimnya di sana seperti itu. Serem ya? (bukan ngeres lo ya, cuma ambil contoh yang gampang). Tapi enak lo kalo ada Islam Indonesia, gak perlu repot-repot haji ke Mekkah, hajinya bisa di lingkungannya sendiri-sendiri, ibadah yang lain juga bisa menyesuaikan… Tapi ngomong2,  kapan ya  malaikat Jibril turun di Indonesia trus nyampek’in wahyu??

Banyak diantara kita yang ndak berani menolak perkataan seorang kyai atau ustadz yang tidak sesuai sunnah (malah menganggapnya sunnah), akan tetapi dengan mudah dan enteng kita menolak dan membantah Hadits/Sabda Nabi Sholallohu ‘alaihi wassalaam yang nyata-nyata tidak diragukan lagi ke-shahih-annya…

Maka sepantasnyalah kita mengambil sikap seperti Imam Syafi’i : “Setiap masalah yang telah shahih khabarnya dari Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalaam menurut ahli naql (ulama hadits) yang menyelisihi apa yang kukatakan, maka aku bersedia untuk menanggalkan perkataanku, baik ketika aku masih hidup maupun setelah aku mati”. [Tawaalayt Ta’siis hal. 108].

Ataukah kita lebih baik dari Beliau? Wallohu a’lam…

2 Balasan ke Baik kok Sesat?

  1. miftach19 mengatakan:

    Shahih dan menarik…

    Baråkallāhu fiykum..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: