Pentingnya SHOLAT BERJAMA’AH

Sholat jama’ah lima waktu adalah syiar islam yang tak boleh kita abaikan begitu saja. Dengan makmurnya sholat jama’ah di masjid-masjid, nampaklah persatuan dan kekuatan umat islam, hingga musuh-musuh islam menjadi takut dan gentar. Beberapa hal yang menunjukkan akan pentingya sholat lima waktu berjama’ah adalah:

  1. Perintah Alloh untuk RUKUK bersama orang-orang yang rukuk (BQS. Al Baqarah: 43) Rukuk bersama orang-orang yang rukuk artinya sholat berjama’ah.
  2. Perintah Alloh untuk sholat BERJAMA’AH meski dalam medan perang (BQS. An Nisa’: 102). Dalam sholat khauf, jama’ah dibagi menjadi 2 kelompok dan bergantian (1 rekaat 1 rekaat) sholat di belakang Nabi, sebagian sholat, sebagian menyandang senjata. Jadi tidak cukup HANYA sebagian umat islam saja yang melaksanakan sholat berjama’ah. Dalam keadaan aman, maka lebih ditekankan lagi untuk menjaga sholat jama’ah.
  3. Rosululloh TIDAK memberi KERINGANAN/ijin kepada Abdullah bin Ummi Maktum yang BUTA (buta, rumah jauh dari masjid, tanpa penuntun, tua, banyak pepohonan dan binatang buas/berbisa) untuk sholat sendiri di  rumah (karena masih mendengar adzan, BHR.Muslim, Abu Daud, Ibnu Majjah). Bagi orang yang sehat dan segar bugar, tentu ndak ada keringanan untuk sengaja sholat di rumah.
  4. Rosululloh berkeinginan MEMBAKAR rumah yang di dalamnya ada laki-laki yang tidak menghadiri sholat jama’ah. (BHR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majjah, At Tirmidzi). Beliau tidak mengancam membakar rumah-rumah orang yang meninggalkan sholat malam, sholat witir, atau meninggalkan puasa senin kamis, akan tetapi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan sholat berjama’ah. Tidak CUKUP Nabi dan beberapa sahabat saja yang melaksanakan sholat jama’ah, menunjukkan begitu pentingnya sholat berjama’ah.
  5. Sholat berjama’ah PAHALANYA berlipat ganda 25 atau 27 kali lipat (BHR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majjah, At Tirmidzi). Dan banyak sekali keutamaan-keutamaan menghadiri sholat berjama’ah seperti ditambah derajatnya, dihapus kesalahannya, malaikat bersholawat untuknya, mendapatkan cahaya di akhirat, pahala berlipat, setiap langkah kaki dihitung sedekah, disediakan hidangan di surga, dll.
  6. Pada jaman Nabi orang yang paling BERAT mengerjakan sholat jama’ah, terutama Isa’ dan Subuh adalah orang-orang munafik (karena hari gelap, sehingga tidak ada yang tahu kalau tidak hadir) (BHR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Majjah). Maka dari itu alangkah baiknya kalau kita menjaga sholat jama’ah agar terhindar dari sifat ini.

Dari Abdulloh bin Abbas ra dari Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassallam beliau bersabda :

”Barangsiapa mendengar seruan adzan namun ia tidak mendatanginya, maka tidak ada sholat baginya kecuali ada UDZUR.” (HR. Al Hakim I/245)

Udzur yang dibolehkan diantaranya ialah: Sakit yang memberatkan, Tidak aman, Sedang menahan/ingin buang hajat, Saat makanan telah dihidangkan, Sedang safar dan takut tertinggal, Habis makan makanan yang berbau tidak sedap, Hujan lebat, Sedang sibuk mengurusi jenazah, Tidak punya baju.

Imam Syafi’i berkata: ”Dan adapun jama’ah, maka saya tidak memaafkan seseorang meninggalkannya, terkecuali karena udzur”. (Mukhtashar Al Muzany). Maka saya tidak meringankan bagi orang yang sanggup kepada sholat jama’ah, bahwa meninggalkan mengerjakannya, selain dari karena ’udzur (Al Umm).

Aisyah ra berkata: ”Barangsiapa mendengar seruan adzan namun tidak menyambutnya, berarti ia tidak menghendaki kebaikan dan enggan menerimanya” (Al-Mushannaf, karangan Abdurrazzaq I/497 no. 1917)

Atha’ ibn Abi Rabah berkata: ”Tak ada bagi seorang makhluk Alloh subhanahu wata’ala, di kota dan di dusun mendapat ijin untuk meninggalkan jama’ah, apabila ia mendengar seruannya (suara adzan)”.

Sholatnya Wanita

Dari Ummu Salamah ra. bahwa Rosululloh bersabda: ”Sebaik-baik tempat sholat bagi kaum wanita adalah di dalam ruangan rumahnya”. (Al Hakim, Al Mustadrak I/209)

Dibolehkan seorang wanita datang ke masjid, dengan syarat aman dari fitnah, menutup aurot, dan tidak memakai wewangian.

Dari Musa bin Yasar, dari Abu Hurairah ra, bahwa pernah seorang wanita berpapasan dengannya dan bau semerbak menerpanya. Maka Abu Hurairah pun berkata, “Wahai hamba Allah, apakah kamu hendak ke masjid?” Dia menjawab, “Ya.” Abu Hurairah berkata kepadanya, “Pulanglah dulu, kemudian mandi! Karena saya mendengar Rasulullah sholallohu ’alaihi wassalam bersabda: ‘Bila seorang wanita ke masjid sementara bau wewangian menghembus dari tubuhnya, maka Allah tidak akan menerima shalatnya hingga dia pulang, lalu mandi, (baru kemudian shalat ke masjid)“. (HR. Al Baihaqi, Ibnu Khuzaimah)

Semoga kita diberikan kemudahan untuk dapat menghadiri sholat berjama’ah, sehingga mendapatkan berbagai macam keutamaan dan dijauhkan dari berbagai macam keburukan. Amiin…

Yang paling aneh, biasanya kita kalao diundang acara-acara / ritual hindu dalam hubungannya dengan orang mati dan acara warisan hindu lainnya, pasti kita rajin datang (malu kalo ndak datang, ntar dicela tetangga, dll), pakai baju serapi-rapinya, hujan lebat pun dibela-belain pake payung. Padahal acara itu amat sangat dilarang karena bukan ajaran islam, bahkan ajarannya agama hindu. Tapi kalo Alloh mengundang kita lewat adzan untuk datang menghadapnya dengan sholat, antara 5-10 menit saja, kaki terasa beraaat beribu-ribu ton, dan ada aja alasannya. Padahal tak henti-hentinya kita setiap hari minta kepadaNya rejeki, kebahagiaan, kesehatan, dan yang pasti surgaNya. Tapi ketika ada panggilan adzan kita, acuh dan cuek saja, Kenapa ya?

Wallohu A’lam…

 

Sumber Bacaan:

  1. Al Quranul Kariim dan terjemahnya.
  2. Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 (hal 446), Ibnu Katsir. Sinar Baru Algensindo
  3. Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 (hal 452), Ibnu Katsir. Sinar Baru Algensindo.
  4. Shahih At Targhib wa Tarhib Jilid 1 (hal 328, Imam Mundziri), Al Albani. Pustaka Sahifa.
  5. Riyadhus Sholihin Jilid 2, Imam Nawawi. Duta Ilmu.
  6. Shahih Riyadhus Sholihin Jilid 2 (hal 184), Al Albani. Pustaka Azzam.
  7. Bulughul Maram Jilid 1 (hal 160), Ibnu Hajar Al Asqalani. Pustaka Ulil Albab.
  8. Mukhtashar Shahih Bukhari Jilid 1 (hal 356), Al Albani. Pustaka Azzam.
  9. Mukhtashar Shahih Muslim Jilid 1 (hal 250), Al Albani. Pustaka Azzam.
  10. Bustanul Ahbar, Ringkasan Nailul Authar (asy Syaukani) Jilid 2 (hal 770), PT Bina Ilmu.
  11. Fathul Baari Jilid 4 (hal 136), Ibnu Hajar Al Asqalani. Pustaka Azzam.
  12. Shahih Abu Daud Jilid 1 (hal 224), Al Albani. Pustaka Azzam.
  13. Shahih Ibnu Majjah Jilid 1 (hal 333), Al Albani. Pustaka Azzam.
  14. Shahih Sunan At Tirmidzi jilid 1 (hal 185), Al Albani. Pustaka Azzam.
  15. Al Umm Jilid 1 (hal 332), Imam Syafi’i. Victory Agencie Kuala Lumpur.
  16. Bimbingan Lengkap Sholat Berjama’ah, Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. At Tibyan.
  17. Tuntunan Praktis Sholat Berjama’ah, Dr. Shalih bin Ghanim As-Sadlan. At Tibyan.
  18. Pedoman Sholat (hal 431), Tengku M. Hasbi Ash Shiddieqy. Pustaka Rizki Putra.
  19. Jilbab Wanita Muslimah (hal 149), Al Albani. Media Hidayah.
  20. Ensiklopedi Shahih Fadhail A’mal (hal 77), Zakaria Ghulam Qadir Al Bakistani. Pustaka Yassir.
  21. Ensiklopedi Islam Kaffah (hal 692), M bin Ibrahim bin Abdullah at Tuwaijiri. Pustaka Yassir.
  22. Dosa-dosa Besar (Al Kabair), Imam Adz-Dzahabi. Pustaka Arofah.

Ket: BQS = Berdasarkan al Quran Surat, BHR = Berdasarkan Hadits Riwayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: